Parenting di Tahun Baru 2014Kegiatan rutin pembinaan orang tua yang biasa disebut ParenThink, oleh Ustad Achung, Konselor Pendidikan dan Pengembangan Anak di PG-TK Al Kalam, diawal tahun baru 2014 diadakan pada hari Kamis, 16 Januari 2014 dan diikuti oleh seluruh orang tua murid dari PG sampai TK. Parenthink yang diadakan ini bertujuan memberikan wawasan pendidikan kepada orang tua dalam menghadapi putra-putri mereka, diera derasnya informasi yang masuk ke alam pikiran anak, melalui banyaknya media diantaranya media cetak, elektronik atau dunia maya. Maka Sekolah PG-TK Islam Al Kalam ingin mengajak orang tua agar gaya dan cara orang tua mendidik anak dirumah harus sama dengan gaya dan cara mendidik guru disekolah.

Walimurid khidmad dengar info sekolahMomen kali ini juga diselipi dengan info-info sekolah seputar kegiatan selama semester genap kedepan (bulan Januari – Juni). Orang tua diberi lembaran kisi-kisi panduan materi belajar anak disekolah dan apa saja yang harus dipersiapkan orang tua manakala anak terjadwal dalam kegiatan outdoor, ekskul, edutainment atau bermain simulasi dan sebagainya. Hal ini disampaikan langsung oleh Ustadah Fatma.  Dan tak lupa motivasi dan kesempatan orang tua untuk mengkritik dan memberi masukan (saran) terhadap sekolah, dibuka lebar oleh Ustad Isa, demi untuk kemajuan sekolah.

Tepat pukul 08.00 WIB Ustadah Fatma membuka acara parenting dengan info kegiatan belajar anak di sekolah selama semester II. Tiap orang tua diberi selebaran jadwal kegiatan dan sambil dijelaskan detailnya seperti kegiatan PHBI Maulud Nabi yang akan diadakan tanggal 18 Januari atau kegiatan outdoor seperti menyeberang laut dengan mengendarai kapal Feri ke Madura atau Berkunjung ke Hanggar TNI AU dan Rumah Pintar di Juanda, Jadwal Renang di Hari selasa dengan tempat yang sama di kolam renang Darmo Regency serta masih banyak lagi.

Ustad Isa memberi pembekalanKemudian Ustad Isa melanjutkan dengan motivasi kepada orang tua agar selalu memberi perhatian kepada anak secara penuh, mengamati perkembagan dan pertumbuhan atau perubahan karakter atau perilaku anak dirumah apakah sudah baik atau masih kurang berkembang. Dan dihimbau agar orang tua tidak terlalu mengintervensi kebijakan sekolah yang sudah ditentukan dan direncakan. Boleh lah kalau hanya sekedar memberi masukan, pendapat atau usulan kepada sekolah tapi sifatnya tidak memaksa jika masukannya tidak dikabulkan. Seperti pertengkaran antar siswa, lalu orang tua tanpa komunikasi dengan guru atau kepala sekolah, melabrak siswa yang memukul anaknya. Padahal hal ini menjadi tanggung jawab guru untuk menyelesaikan. Atau seperti tujuan lokasi wisata perpisahan TK B ditentukan di Jatim Park lalu ada orang tua yang ngeyel tidak suka, bagus disinilah, disitulah lalu mengancam tidak ikut. Dan masih banyak contoh yang lain, contoh-contoh intervensi  seperti ini yang tidak diharapkan sekolah, tegas Ustad Isa.

Ustad Isa dan Ustad AchungDitutup kemudian oleh Ustad Achung dengan Parenting, yang intinya mengajak orang tua agar bisa bekerjasama yang baik dengan sekolah, artinya orang tua harus percaya 100% terhadap sekolah, dalam mendidik kemampuan akademik, budi pekerti, akhlaq dan kesholehan putra-putri mereka. Jangan pernah ragu, tandas Ustad Achung. Kemudian ketrampilan dalam mendidik anak dirumah, juga harus lebih ditingkatkan kesabarannya, tidak boleh sambat dan banyak mengeluh tentang kenakalan anak, dan jangan sampai kejebak pada sikap mematikan modalitas positif anak dalam berkembang, dengan sering membentak, memarahi, mengata-ngatai jelek, menjatuhkan harga diri anak atau yang paling dihindari sampai memukul atau menendang anak (intimidasi dalam bentuk serangan fisik) hanya karena mau orang tua harus dituruti.

Ustad AchungUstad Achung menunjukkan video keributan dan kehebohan anak-anaknya dirumah yang direkam dan diputar disini, sambil diberikan penjelasan tentang apa yang dilakukan ustad Achung menyikapi perilaku dan situasi anak-anaknya yang rata-rata masih balita dan TK. Intinya yang disarankan ustad Achung adalah pertama, orang tua harus mau bercapek ria menata ulang alat atau media bermain anak,sambil dengan santun memberi nasehat agar jika bermain harus ditata sendiri lagi ya, dan kita menyiapkan tempat atau kontainer penyimpanan mainan anak. Kedua, Orang tua harus mengeksplor ketuntasan perilaku heboh anak, sampai mereka bosan dan berhenti sendiri. Seperti manjat-manjat, teriak-teriak, berkelahi antar saudara, atau tangisan dan rengekan dalam meminta sesuatu kepada kita. Ketiga, Orang tua harus jeli melihat sisi positif dari kehebohan anak dirumah, sekecil apapun, lalu dipuji dan dihebatkan. Dan Terakhir, Orang tua disarankan turut berpartisipasi dalam aksi heboh si anak, kemudian masuk menjadi bagian dalam kehebohan itu dan selanjutkan mengendalikan kehebohan itu menjadi yang lebih baik lagi sesuai keinginan dan harapan kita yang semestinya.

Acara diakhiri pukul 10.00 WIB, tepat waktu pulang anak-anak bersekolah.

GALLERY PHOTO :

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s