Kegiatan parenting education untuk seluruh orang tua murid siswa PG dan TK Islam Al Kalam yang diadakan di pelataran sekolah pada hari kamis, 2 Januari 2012, bersama Ustad Achung, Konselor Pendidikan dan Pengembangan anak, membahas tentang Anak Karbitan dan seputar Pe-label-an anak serta tips cara efektif orang tua menghadapi mendidik anak. Kegiatan ini diadakan rutin oleh sekolah dengan tujuan agar orang tua dan sekolah mempunyai kesamaan pandangan dan mind set tentang mendidik anak serta menghindari perbedaan pemahaman dalam menyikapi kenakalan anak yang bisa jadi itu adalah eksplorasi kecerdasan si anak.

Acara yang dimoderatori oleh ustadah Fatma, setelah ucap salam dan menyambut audien, mempersilahkan dua siswa TK B yang ditunjuk spontan dan langsung maju yaitu Nindi dari kelas Butterfly sebagai Pembaca Ayat suci Al Qur’an dan Eka Pratiwi dari kelas Penguin sebagai saritilawah. Tampak keberanian dan indah bacaan yang dibawakan, membuat Ustadah Fatma dengan mantap memuji kedua anak tersebut dihadapan orang tua yang hadir saat itu.

Acara selanjutnya sambutan oleh Ustad Isa Ansori S.Psi. selaku Direktur PG/TK Islam Al Kalam, yang dalam pesannya disampaikan bukti bahwa mutu sekolah terus dikembangkan dengan mewujudkan pengadaan sarana dan prasarana belajar, diantaranya 3 set layar monitor LCD TV, untuk presentasi dan pembelajaran komputer serta media komunikasi dan interaktif berupa website sekolah, yang sewaktu-waktu bisa dibuka 24 jam tentang berita terbaru apa dari sekolah yang sudah dilakukan. Orang tuapun bisa komplain, mengkritik atau memuji dan berkomentar lewat media ini.

Disambutan terakhir beliau menginformasikan bahwa tanggal 6 besok, seluruh siswa TK akan melakukan Field Trip kunjungan ke Bandara Juanda. Kemarin dan Hari ini Ustad Isa melakukan finalisasi perijinan di kantor TNI Angkatan Udara Juanda. Beliau berpesan agar orang tua yang ikut, agar berkoordinasi dengan sekolah, karena tidak mudah untuk bisa masuk diareal Juanda.

Waktupun sepenuhnya diberikan kepada Ustad Achung, dan langsung dibuka dengan tayangan di LCD TV berupa penelitian Dr. Masaru Emoto tentang Air dari pegunungan sungai Honshu yang diteliti dengan ditempeli dan dikata-katai negative seperti nakal, jahat, bentakan, maka molekul air setelah dilihat dengan microscop khusus, tampak pecah dan tidak beraturan. Tapi ketika di kata-katai kata dan kalimat positif seperti cinta, hebat dan sebagainya, maka molekul air tampak seperti Kristal dan berlian yang menyatu terikat indah. Begitulah air yang ada dalam tubuh manusia (anak kita) akan bergolak atau teduh, menyesuaikan perlakuan apa yang didapat.

Dilanjutkan materi tentang IQ (kecerdasan logis-matematis) yang selalu diagungkan oleh orang tua, dalam arti anak dituntut mampu disemua mata pelajaran, tapi tidak peduli aspek moral dan emosi anak. Pengetesan kecerdasan IQ anak saat ini sudah kuno, dan berubah pendekatan setelah Howard Gardner menelurkan teori multiple intelijen, dengan adanya 8 kecerdasan majemuk. Dipahamkan oleh ustad Achung bahwa anak bisa memiliki 1 sampai 3 kecerdasan sekaligus. Dan diantaranya ada kecerdasan kinestetik yaitu anak cenderung banyak tingkah / overaktif, maka yang cocok bagi anak ini memang bukan duduk diam mendengarkan guru menerangkan, akan tetapi harus learning by doing.

Diakhir materi disajikan tentang anak karbitan, yaitu anak yang otaknya di push terus untuk belajar ilmu logika dan matematika, serta dikondisikan otaknya agar mampu berpikir seperti orang dewasa. Dengan perlakuan les apapun, berlatih ini dan itu, hingga hampir tidak ada waktu untuk bermain dan bereksplorasi emosi dan tingkah laku. Jadinya anak itu menjadi anak yang cepat matang tapi juga cepat busuk. Anak tampil dalam sosok Dewasa tapi Kekanak-kanakan. Ditekankan oleh ustad Achung bahwa aspek jiwa dan mental anak tidak bisa dikarbit. Mental dan Kejiwaan anak harus melalui masa-masanya dan mengkonsumsi (makanan) kebutuhan seperti, kebebasan, rasa ingin tahu, teriak, nangis, tertawa, menendang, gulung-gulung dilantai dan lain sebagainya. Jika hal ini semua tidak boleh, dilarang dan tidak diijinkan atau dihalangi terus hingga anak dewasa. Maka kelak mereka akan tetap mencari atau akan tetap butuh melalui masa tersebut di saat mereka dewasa kelak.

Inilah yang banyak ditemui pada orang tua yang tidak tahu tentang makna Readiness (kesiapan usia belajar) dimana banyak orang tua yang bangga anaknya sudah sekolah SD diusia 5-6 tahun. (pemerintah berpatokan di usia 7 tahun) atau disekolahkan/dititipkan diusia 2-3 tahun, padahal diusia itu merupakan periode kelekatan anak dengan orang tua.

Setelah selesai materi parenting disajikan, acara dilanjutkan dengan promo presentasi salah satu sekolah SD diwilayah Balong Sari, dan mengutaraka semua produk jasa pendidikannya kepada orang tua yang hadir saat itu. Setelah itu acara ditutup oleh ustadah Fatma seiring putra-putri mereka selesai menunaikan pelajaran pada hari itu. (@)

GALLERY PHOTO :

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s